About

penaja 1

Showing posts with label KISAH DAN TAULADAN. Show all posts
Showing posts with label KISAH DAN TAULADAN. Show all posts

8 August 2014

ASIYAH BINTI MUZAHIM (pejuang di tengah kezaliman)




“Dan Allah membuat istri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim.” (QS. At-Tahrim [66] : 11).


Rasulullah SAW memerintahkan untuk bersikap lembut dan banyak mewasiatkan agar bersikap baik kepada perempuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan kiranya jika Allah Tabaroka wa Ta’ala dengan segala hikmah-Nya mengamanahkan kaum wanita kepada kaum laki-laki.

Salah satu hal yang patut kita renungkan dan jadikan pelajaran adalah kisah keteguhan salah seorang putri, istri dari seorang suami yang angkuh atas kekuasaan yang ada di tangannya, yang dusta lagi kufur kepada Rabbnya. Putri yang akhirnya harus disiksa oleh tangan suaminya sendiri, yang disiksa karena keimanannya kepada Allah Dzat Yang Maha Tinggi. Dialah Asiyah binti Muzahim, istri Firaun.

Alkisah di negeri Mesir, Firaun terakhir yang terkenal dengan keganasannya bertahta. Setelah kematian sang isteri, Firaun kejam itu hidup sendiri tanpa pendamping. Sampai cerita tentang seorang gadis jelita dari keturunan keluarga Imran bernama Siti Asiyah sampai ke telinganya.

Firaun lalu mengutus seorang Menteri bernama Haman untuk meminang Siti Asiyah. Orangtua Asiyah bertanya kepada Siti Asiyah : “Sudikah anakda menikahi Firaun?” “Bagaimana saya sudi menikahi Firaun. Sedangkan dia terkenal sebagai raja yang ingkar kepada Allah?” Haman kembali pada Firaun. Alangkah marahnya Firaun mendengar kabar penolakan Siti Asiyah. “Haman, berani betul Imran menolak permintaan raja. Seret mereka kemari. Biar aku sendiri yang menghukumnya!”

Firaun mengutus tentaranya untuk menangkap orangtua Siti Asiyah. Setelah disiksa begitu keji, keduanya lantas dijebloskan ke dalam penjara. Menyusul kemudian, Siti Asiyah digiring ke Istana. Firaun kemudian membawa Siti Asiyah ke penjara tempat kedua orangtuanya dikurung. Kemudian, dihadapan orangtuanya yang nyaris tak berdaya, Firaun berkata: “Hei, Asiyah. Jika engkau seorang anak yang baik, tentulah engkau sayang terhadap kedua orangtuamu. Oleh karena itu, engkau boleh memilih satu di antara dua pilihan yang kuajukan. Kalau kau menerima lamaranku, berarti engkau akan hidup senang, dan pasti kubebaskan kedua orangtuamu dari penjara laknat ini. Sebaliknya, jika engkau menolak lamaranku maka engkau sudah tahu apa yang akan aku lakukan. Karena ancaman itu, Siti Asiyah terpaksa menerima pinangan Firaun. Dengan mengajukan beberapa syarat :

Firaun harus membebaskan orangtuanya. Firaun harus membuatkan rumah untuk ayah dan ibunya, yang indah lagi lengkap perabotannya. Firaun harus menjamin kesehatan, makan, minum kedua orangtuanya. Siti Aisyah bersedia menjadi isteri Firaun. Hadir dalam acara-acara tertentu, tapi tak bersedia tidur bersama Firaun. Sekiranya permintaan-permintaan tersebut tidak disetujui, Siti Asiyah rela mati dibunuh bersama ibu dan bapaknya.

Akhirnya Firaun menyetujui syarat-syarat yang diajukan Siti Asiyah. Firaun lalu memerintahkan agar rantai belenggu yang ada di kaki dan tangan orangtua Siti Asiyah dibuka. Singkat cerita, Siti Asiyah tinggal dalam kemewahan Istana bersama-sama Firaun. Namun ia tetap tak mau berbuat ingkar terhadap perintah agama, dengan tetap melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

Pada malam hari Siti Asiyah selalu mengerjakan shalat dan memohon pertolongan Allah SWT. Ia senantiasa berdoa agar kehormatannya tidak disentuh oleh orang kafir, meskipun suaminya sendiri, Firaun. Untuk menjaga kehormatan Siti Asiyah, Allah SWT telah menciptakan iblis yang menyaru sebagai Siti Asiyah. Dialah iblis yang setiap malam tidur dan bergaul dengan Firaun.

Firaun mempunyai seorang pegawai yang amat dipercaya bernama Hazaqil. Hazaqil amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Beliau adalah suami Siti Masyitoh, yang bekerja sebagai juru hias istana, yang juga amat taat dan beriman kepada Allah SWT. Namun demikian, dengan suatu upaya yang hati-hati, mereka berhasil merahasiakan ketaatan mereka terhadap Allah. Dari pengamatan Firaun yang kafir.

Suatu kali, terjadi perdebatan hebat antara Firaun dengan Hazaqil, disaat Firaun menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang ahli sihir, yang menyatakan keimanannya atas ajaran Nabi Musa as. Hazaqil menentang keras hukuman tersebut.

Mendengar penentangan Hazaqil, Firaun menjadi marah. Firaun jadi bisa mengetahui siapa sebenarnya Hazaqil. Firaun lalu menjatuhkan hukuman mati kepada Hazaqil. Hazaqil menerimanya dengan tabah, tanpa merasa gentar sebab yakin dirinya benar.

Hazaqil menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan tangan terikat pada pohon kurma, dengan tubuh penuh ditembusi anak panah. Sang istri, Masyitoh, teramat sedih atas kematian suami yang amat disayanginya itu. Ia senantiasa dirundung kesedihan setelah itu, dan tiada lagi tempat mengadu kecuali kepada anak-anaknya yang masih kecil.

Suatu hari, Masyitoh mengadukan nasibnya kepada Siti Asiyah. Di akhir pembicaraan mereka, Siti Asiyah menceritakan keadaan dirinya yang sebenarnya, bahwa iapun menyembunyikan ketaatannya dari Firaun. Barulah keduanya menyadari, bahwa mereka sama-sama beriman kepada Allah SWT dan Nabi Musa as.

Pada suatu hari, ketika Masyitoh sedang menyisir rambut puteri Firaun, tanpa sengaja sisirnya terjatuh ke lantai. Tak sengaja pula, saat memungutnya Masyitoh berkata : “Dengan nama Allah binasalah Firaun.”

Mendengarkan ucapan Masyitoh, Puteri Firaun merasa tersinggung lalu mengancam akan melaporkan kepada ayahandanya. Tak sedikitpun Masyitoh merasa gentar mendengar hardikan puteri. Sehingga akhirnya, ia dipanggil juga oleh Firaun.

Saat Masyitoh menghadap Firaun, pertanyaan pertama yang diajukan kepadanya adalah : “Apa betul kau telah mengucapkan kata-kata penghinaan terhadapku, sebagaimana penuturan anakku. Dan siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini?”

“Betul, Baginda Raja yang lalim. Dan Tiada Tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai segala alam dan isinya.” jawab Masyitoh dengan berani.

Mendengar jawaban Masyitoh, Firaun menjadi teramat marah, sehingga memerintahkan pengawalnya untuk memanaskan minyak sekuali besar. Dan saat minyak itu mendidih, pengawal kerajaan memanggil orang ramai untuk menyaksikan hukuman yang telah dijatuhkan pada Masyitoh. Sekali lagi Masyitoh dipanggil dan dipersilahkan untuk memilih : jika ingin selamat bersama kedua anaknya, Masyitoh harus mengingkari Allah. Masyitoh harus mengaku bahwa Firaun adalah Tuhan yang patut disembah. Jika Masyitoh tetap tak mau mengakui Firaun sebagai Tuhannya, Masyitoh akan dimasukkan ke dalam kuali, lengkap bersama kedua anak-anaknya.

Masyitoh tetap pada pendiriannya untuk beriman kepada Allah SWT. Masyitoh kemudian membawa kedua anaknya menuju ke atas kuali tersebut. Ia sempat ragu ketika memandang anaknya yang berada dalam pelukan, tengah asyik menyusu. Karena takdir Tuhan, anak yang masih kecil itu dapat berkata, “Jangan takut dan sangsi, wahai Ibuku. Karena kematian kita akan mendapat ganjaran dari Allah SWT. Dan pintu surga akan terbuka menanti kedatangan kita.”

Masyitoh dan anak-anaknyapun terjun ke dalam kuali berisikan minyak mendidih itu. Tanpa tangis, tanpa takut dan tak keluar jeritan dari mulutnya. Saat itupun terjadi keanehan. Tiba-tiba, tercium wangi semerbak harum dari kuali berisi minyak mendidih itu. Siti Asiyah yang menyaksikan kejadian itu, melaknat Firaun dengan kata-kata yang pedas. Ia pun menyatakan tak sudi lagi diperisteri oleh Firaun, dan lebih memilih keadaan mati seperti Masyitoh.

Mendengar ucapan Isterinya, Firaun menjadi marah dan menganggap bahwa Siti Asiyah telah gila. Firaun kemudian telah menyiksa Siti Asiyah, tak memberikan makan dan minum, sehingga Siti Asiyah meninggal dunia.

Hal menarik yang bisa kita jadikan perenungan di antaranya bahwa Asiyah PEREMPUAN CANTIK yang hidup pada masa Nabi Musa dan beriman kepada Allah SWT. Ia tak kuasa menolak menjadi istri Firaun karena hal buruk akan menimpa keluarganya. Meski menjadi istri kesayangan Firaun, sebenarnya raja lalim itu tak pernah berhasil membujuknya. Bahkan, Asiyah berhasil MEMPERTAHANKAN KEIMANANNYA tanpa sepengetahuan Firaun.

Asiyah pun menjadi inspirasi pengambilan keputusan Firaun dalam beberapa kesempatan penting. KEIMANAN DAN KECERDASANNYA mendorongnya mengoptimalisasi peran di mata banyak hunafa (orang-orang yang hanif) Bani Israil yang diselamatkan berkat usulannya.

Keputusan mengasuh Musa kecil juga atas inisiatif Asiyah. Allah pun membantunya dengan menurunkan rasa cinta Firaun kepada Musa. Bagi Asiyah, hidup dalam lingkungan musuh Allah bukanlah penghalang menjadi PEREMPUAN BAIK dan PEJUANG DAKWAH yang gigih. Ia bergabung dalam barisan dakwah Nabi Musa dan pada akhirnya mendatangkan murka Firaun.

Alangkah beratnya ujian beliau, disiksa oleh suaminya sendiri.

Namun, akankah siksaan itu menggeser keteguhan hati Asiyah walau sekejap? Sungguh siksaan itu tak sedikitpun mampu menggeser keimanan wanita mulia itu. Akan tetapi, siksaan-siksaan itu justru semakin menguatkan keimanannya.

Iman yang berangkat dari hati yang tulus, apapun yang menimpanya tidak sebanding dengan harapan atas apa yang dijanjikan di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala. Maka Allah pun tidak menyia-nyiakan keteguhan iman wanita ini. Ketika Firaun dan algojonya meninggalkan Asiyah, para malaikat pun datang menaunginya. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Siti Asiyah sempat berdoa kepada Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam firman-Nya :

“Dan Allah membuat isteri Firaun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata : “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (Q.S. At-Tahrim [66] : 11)

Di tengah beratnya siksaan yang menimpanya, wanita mulia ini senantiasa berdoa memohon untuk dibuatkan rumah di surga. Allah mengabulkan doa Asiyah, maka disingkaplah hijab dan ia melihat rumahnya yang dibangun di dalam surga. Diabadikanlah doa wanita mulia ini di dalam Al-Quran.

Ketika melihat rumahnya di surga dibangun, maka berbahagialah wanita mulia ini. Semakin hari semakin kuat kerinduan hatinya untuk memasukinya. Ia tak peduli lagi dengan siksaan Firaun dan algojonya. Ia malah tersenyum gembira yang membuat Firaun bingung dan terheran-heran. Bagaimana mungkin orang yang disiksa akan tetapi malah tertawa riang? Sungguh terasa aneh semua itu baginya. Jika seandainya apa yang dilihat wanita ini ditampakkan juga padanya, maka kekuasaan dan kerajaannya tidak ada apa-apanya.

Asiyah berhasil MEWARNAI lingkungannya, bukan sebaliknya malah TERWARNAI dengan perilaku tidak benar, padahal kalau saja Asiyah nunut saja dengan Firaun maka hidupnya akan jauh lebih “bahagia” dan “sejahtera”.

Betapa banyak istri-istri sekarang yang diam saja tidak menasehati apabila suaminya berlaku tidak benar, malah ikut-ikutan atau diam saja, dengan pertimbangan kalau menasehati suami khawatir pendapatannya akan dikurangi atau malah dihentikan oleh suami. Betapa banyak suami-suami yang bersikap seperti Firaun abad 20, yang menyiksa istrinya lahir dan juga batin dan melakukannya berulang-ulang seperti tak menyadari bahwa yang dilakukannya persis seperti Firaun kepada Asiyah…na’udzubillah

Akhirnya, Asiyah menutup riwayat hidupnya dalam siksaan keji suaminya sendiri. Sebuah bentuk PENGORBANAN YANG TOTAL terhadap Allah dan KETAATAN YANG PARIPURNA dari seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Maka tibalah saat-saat terakhir di dunia. Allah mencabut jiwa suci wanita shalihah ini dan menaikkannya menuju rahmat dan keridhaan-Nya. Berakhir sudah penderitaan dan siksaan dunia, siksaan dari suami yang tak berperikemanusiaan.

Tidakkah kita iri dengan kedudukan wanita mulia ini? Apakah kita tidak menginginkan kedudukan itu? Kedudukan tertinggi di sisi Allah Yang Maha Tinggi. Akan tetapi adakah kita telah berbuat amal untuk meraih kemuliaan itu? Kemuliaan yang hanya bisa diraih dengan amal shalih dan pengorbanan. Tidak ada kemuliaan diraih dengan memanjakan diri dan kemewahan.

Tidakkah kita menjadikan Asiyah sebagai teladan hidup kita untuk meraih kemuliaan itu? Apakah kita tidak malu dengannya, dimana dia seorang istri raja, gemerlap dunia mampu diraihnya, istana dan segala kemewahannya dapat dengan mudah dinikmatinya. Namun, apa yang dipilihnya? Ia lebih memilih disiksa dan menderita karena keteguhan hati dan keimanannya. Ia lebih memilih kemuliaan di sisi Allah, bukan di sisi manusia. Jangan sampailah dunia yang tak seberapa ini melenakan kita. Melenakan kita untuk meraih janji Allah Ta’ala, surga dan kenikmatannya.

Jangan sampai karena alasan kondisi kita mengorbankan keimanan kita, mengorbankan aqidah kita. Marilah kita teladani Asiyah binti Muzahim dalam mempertahankan iman. Jangan sampai bujuk rayu setan dan bala tentaranya menggoyahkan keyakinan kita. Janganlah penilaian manusia dijadikan ukuran, tapi jadikan penilaian Allah sebagai tujuan. Apapun keadaan yang menghimpit kita, seberat apapun situasinya, hendaknya ridha Allah lebih utama. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan surga tertinggi yang penuh kenikmatan.

Demikian kisah Siti Asiah dan Masyitoh. Semoga muslimah sekalian bisa mengambil hikmah dan mengikuti jejak keduanya, meninggal dalam keadaan teguh menggenggam “Tauhid.”



PERHATIAN:- Jika anda rasa kandungan ini patut disebarkan ke laman facebook dan twitter anda,sila klik butang kongsi di bawah ini.

 Tweet
 Share

 


TERIMA KASIH KERANA KONGSI KANDUNGAN INI DENGAN RAKAN ANDA..
Read More →

12 July 2014

Kisah 2 Malaikat Yang Dijadikan Manusia (Harut Dan Marut)



Harut dan Marut adalah antara malaikat yang diciptakan oleh Allah tetapi tidak tersenarai dalam 10 malaikat yang wajib diketahui.
Read More →

16 May 2013

SYAITAN TAKUT DENGAN SELIPAR IMAM AHMAD IBN HANBAL

Syeikh Nuruddin Marbu al-Banjari ketika mensyarahkan Kitab Ma'a Auliyak Was Sollihin,Syeikhuna ada menyebutkan suatu kisah menarik yang berlaku kepada Imam Ahmad bin Hanbal,pada zaman Imam Ahmad bin Hanbal adalah zaman Iraq diperintah oleh seorang Amirul Mukminin dari Khilafah Abbasiyyah, Almutawakkil Ala Allah Jaa'far bin Mu'tasim.

khalifah yang menggantikan saudaranya Al Mu'tasim yang wafat pada tahun 323 H. Khalifah al Mutawakkil mempunyai seorang jariah yang beliau sayangi. Ditaqdirkan suatu hari, jariah itu telah dirasuk jin. Telah bermacam ikhtiyar beliau usahakan namun masih gagal. Akhirnya, beliau telah dinasihatkan untuk meminta ubat dengan Imam Ahmad.

Khalifah al Mutawakkil telah menghantar wakil untuk bertemu dengan imam Ahmad. Cubaan pertama telah gagal kerana Imam Ahmad enggan untuk pergi ke Istana. Beliau berhujah jika pihak istana mahukan khidmat beliau, seharusnya pihak istana datang kerumah beliau. Percubaan kedua yang hadir bersama surat rasmi juga tidak diendahkan oleh Imam Ahmad. Khalifah al Mutawakkil menghantar utusan ketiga dan mengarahkan utusan itu tidak pulang kecuali dengan hasil.

 (read more : http://khalifahalhidayah.blogspot.com )

Atas permintaan itu, Imam Ahmad mengambil seliparnya dan diberikan kepada utusan itu. Beliau menyuruh utusan itu memberikan seliparnya kepada Khalifah al Mutawakkil. Kemudian khalifah al Mutawakkil perlulah mengangkat selipar itu lebih tinggi dari kepalanya dan berkata "..... hei syaitan dan jin yang berada didalam tubuh budak ini, keluarlah engkau dari tubuh ini, jika tidak akan aku pukul engkau dengan selipar Ahmad bin Hanbal...". Segeralah pulang utusan dengan membawa selipar Imam Ahmad.

Terdesak dengan keadaan jariah nya itu, Khalifah al Mutawakkil pun mengikuti segala pesan Imam Ahmad bin Hanbal. Diangkatnya selipar itu melepasi kepalanya dan berkata "..... hei syaitan dan jin yang berada didalam tubuh budak ini, keluarlah engkau dari tubuh ini, jika tidak akan aku pukul engkau dengan selipar Ahmad bin Hanbal...".

Seusai disebut kalimah itu, terbit dari belakang jariah itu beberapa lembaga hitam dan lari dengan segera. Sebelum pergi jin itu berkata, " .... wahai khalifah, nasibku baik kerna engkau menyuruh aku keluar dari tubuh nya sahaja, jika engkau menyuruh aku keluar dari Iraq, tidak akan kusentuh bumi Baghdad ini..."

sumber  http://khalifah-samudera.blogspot.com


PERHATIAN:- Jika anda rasa kandungan ini patut disebarkan ke laman facebook dan twitter anda,sila klik butang kongsi di bawah ini.

 
 Share

 

TERIMA KASIH KERANA KONGSI KANDUNGAN INI DENGAN RAKAN ANDA..
Read More →

9 May 2013

Kisah Wanita Tua Zaman Nabi Muhammad S.A.W Berulang Lagi

Ingat lagi kisah seorang wanita tua yang sering menyakiti Rasulullah SAW?
Seorang wanita tua selalu menyakiti Baginda dengan meletakkan duri, najis dan lain-lain halangan di jalan yang selalu dilalui oleh Rasulullah SAW. Namun Rasulullah SAW tidak bertindak balas, Bagindai SAW sentiasa bersabar. Akhirnya apabila wanita tua itu sakit, Rasulullah SAW menziarahi dan merawati menunjukkan kasih sayang terhadapnya,dengan keperibadian mulia yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW,lalu terbukalah pintu hidayah lantas wanita tua tersebut memeluk Islam di tangan Baginda.
Kisah yang seakan sama berlaku pada masa kini di Amerika Syarikat. Diceritakan oleh Suhaib Webb antara beberapa siri ceramah beliau di Youtube.

Suhaib menceritakan seorang Islam dari Sudan menetap di kediaman yang banyak kes jenayah iaitu di Bronx, New York. Jiran warga Sudan itu ialah seorang wanita tua Yahudi.

Warga Sudan dan isterinya sering menyapa dan memberi makanan kepada jiran Yahudi tersebut. Tetapi wanita Yahudi itu mencampakkan segala pemberian dan sering memarahi mereka. Tetapi keluarga warga Sudan itu terus menyantuni jirannya, kerana ini adalah tuntutan Islam dalam hak berjiran.

Pada satu hari wanita tua Yahudi itu dirompak, lalu warga Sudan tersebut ternampak dan menyelamatkannya. Akibat kecederaan wanita tua Yahudi itu terlantar di hospital. Di hospital tiada siapa yang menziarahinya, hanya warga Sudan itu sahaja. Tetapi wanita tua Yahudi itu masih tetap memarahinya.
 
Apabila sihat, wanita tua Yahudi itu kembali ke rumah, namun warga Sudan tersebut masih berbuat baik kepada jirannya walaupun wanita tua Yahudi itu tidak menyukainya.

Akhirnya wanita tua Yahudi tersebut jatuh sakit. Sekali lagi dia terlantar di hospital dan tiada sesiapa juga yang menziarahinya hanya warga Sudan dan isterinya sahaja. Dengan keperibadian Islam yang ada pada warga Sudan tersebut menarik perhatian wanita Yahudi itu, lalu bertanyalah kepada warga Sudan tersebut mengenai Islam, Akhirnya terbukalah pintu hidayah lalu wanita tua Yahudi itu memeluk Islam. Subhanallah….

Tiga hari selepas memeluk Islam, wanita tua Yahudi itu tadi menemui ajal, menghadap Allah SWT.

Apabila dibacakan wasiat, wanita tua Yahudi itu telah menyerahkan semua hartanya kepada warga Sudan tersebut.

Firman Allah yang bermaksud:

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu dalam kebinasaan dan berbuat baiklah, kerana sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Baqarah: 195)

Islam menyeru umatnya berbuat baik sesama makhluk, baik berupa manfaat ilmu, harta benda dan juga yang berbetuk nasihat ke agamaan, sepertimana sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan atas setiap sesuatu.” – Edisikini

sumber:  http://wwwsaja-saja.blogspot.com



PERHATIAN:- Jika anda rasa kandungan ini patut disebarkan ke laman facebook dan twitter anda,sila klik butang kongsi di bawah ini.

 
 Share

 


TERIMA KASIH KERANA KONGSI KANDUNGAN INI DENGAN RAKAN ANDA..
Read More →

1 May 2013

Kisah Saidina Umar Dengan Fakir Miskin

Umar Al-Khattab Merayu Pada Wanita Miskin Agar Jangan Dirinya Didakwa Di Akhirat Kelak~

Kita telah biasa membaca kisah Saidina Umar bin Al-Khattab r.a ketika menjadi khalifah (pemimpin negara) dengan seorang ibu miskin yang hanya memasak batu kerana anaknya kelaparan.Tetapi pernahkah kita (yang menjadi pemimpin) ambil pengajaran dari kisah tersebut?

Saidina Umar r.a seorang yang bekerja keras dan teliti kerana beliau seorang hamba Allah yang sejati.Seorang khalifah (pemimpin negara) mestilah mengambil berat tentang umat Islam di dalam negaranya, seperti seorang ayah yang mengambil berat tentang anak-anaknya.

Saidina Umar r.a. cuba sedaya upaya untuk berbuat demikian.Di waktu siang pula beliau biasanya bekerja di rumah.Di waktu malam pula beliau sering keluar melakukan rondaan ke bandar Madinah dan kawasan persekitaran untuk melakukan siasatan sendiri

Beliau ingin mengetahui keadaan sebenar rakyat jelata dibawah kerajaan pimpinannya serta membantu setiap orang yang memerlukan bantuan.Pada suatu malam, Umar r.a dan pembantunya Aslam telah keluar menyamar dan membuat rondaan ke suatu tempat bernama Harrah.

Tiba di satu tempat di sebuah rumah kecil yang usang di pinggir desa, Umar dan Aslam mendapati ada seorang wanita dan beberapa orang anak yang sedang menangis kelaparan.Kelihatan seorang ibu yang dikelilingi anak-anaknya sedang memasak sesuatu di dalam periuk....

Wanita itu kelihatan sangat sedih manakala anak-anaknya kelihatan sangat lapar.Sadina Umar r.a melihat terdapat sebuah periuk yang sedang menyala api di bawahnya.

Fikirnya tentu ada makanan di dalam periuk itu dan sudah tentu wanita itu akan menghidangkannya dan anak-anak itu akan berhenti menangis.Walau bagaimanapun, setiap kali anaknya menangis, si ibu akan berkata “Tunggulah sebentar,.... makanan ini sedang ibu masak...”

Saidina Umar memerhati dari jauh dan berasa hairan kerana ucapan tersebut diulangi beberapa kali...walaupun si ibu telah memasak untuk tempoh masa yang agak lama.....

Sadina Umar r.a. melihat dan menunggu sementara isi di dalam periuk itu terus mendidih tetapi wanita itu masih tidak memberikan anak-anaknya makan. Akhirnya beliau menjadi hairan. Wanita tersebut telah mengungkit-ungkit rasa tidak puas hati kepada Pemimpin Negara (Umar r.a) kerana tidak membantunya.

Saidina Umar memberanikan diri untuk menyiasat perkara tersebut,...Beliau memberi salam dan meminta izin untuk memasuki rumah itu....

Lalu dia bertanya kepada ibu tua itu, “ Mengapa anak-anak ibu tidak berhenti menangis ?..”

Dia memberitahu Saidina Umar r.a. yang mereka menangis kerana lapar.

“Mengapa tidak diberikan makanan yang ibu masak dari awal tadi ? ” ...Umar r.a. bertanya

'Tidakkah makanan dalam periuk itu sudah masak?' tanya Saidina Umar r.a.lagi

Wanita tersebut menerangkan bahawa dia tiada makanan untuk memberi makan pada anak-anaknya.Wanita itu menghampiri Saidina Umar r.a dan berbisik ke telinganya,

"Jangan beritahu mereka yang tidak ada makanan pun di dalam periuk itu, kerana saya tidak mempunyai wang untuk membelinya.

“Sebenarnya tidak ada makanan di dalam periuk itu....Periuk itu hanya berisi batu untuk mendiamkan anak-anak saya....tetapi anak-anak saya fikir tentu ada makanan di dalam periuk.Mereka sekarang kelaparan tetapi saya terus menunggu hingga mereka letih, mereka tentu akan tertidur.Kemudian mereka akan terlupa rasa lapar.Biarlah mereka fikir bahawa saya sedang memasak makanan...dan saya berharap supaya mereka akan berhenti menangis kerana keletihan dan tertidur....

ulangi ibu tua itu sekali lagi. Hanya dengan merebus batu dalam air dapat menenangkan anak-anaknya, dengan harapan agar nanti dapat makan apa yang dimasak oleh ibunya. Sehinggalah anak-anak itu tertidur.

Setelah anak-anaknya tidur, wanita itu menerangkan kepada Saidina Umar r.a yang suaminya baru sahaja meninggal dunia. Itulah sebabnya dia tidak mempunyai duit untuk membeli makanan.

Malangnya orang yang menguruskan Baitul Mal tidak tahu akan kesusahan yang ditanggung oleh wanita itu. Jika mereka tahu, tentunya mereka akan menolong.

“Apakah ibu sering berbuat begini ?” Tanya Umar ingin tahu.

“ Benar,... Saya hidup sebatang kara.... tidak memiliki saudara-mara dan suami tempat bergantung.” Jawab ibu tadi dengan nada kesal sambil berusaha menyembunyikan keperitan hidupnya.

Kemudian,Saidina Umar r.a, yang merasa kasihan dengan wanita miskin itu berkata: "Kenapa ibu tidak adukan perkara ini kepada khalifah? Bukankah beliau boleh membantu dengan memberikan wang dari Baitulmal ?... dengan cara itu akan dapat membantu meringankan kehidupan ibu dan anak-anak.” nasihat Umar...

"Aku seorang perempuan" jawab wanita itu.

“ Khalifah telah berbuat zalim pada kami anak-beranak…” kata si ibu lagi

Terkejut Saidina Umar mendengarkan ucapan Ibu tua itu tadi,

“ Bagaimana khalifah telah berbuat zalim pada ibu ?...terangkan kepada saya.. ” Saidina Umar ingin tahu.

“ Saya sangat kesal dengan pemerintahannya.... Beliau seharusnya melihat keadaan rakyatnya dalam kehidupan nyata,..... terdapat ramai lagi orang yang senasib dengan saya...”

Umar langsung menangis teresak esak mendengar keluhan wanita tersebut sehingga airmata beliau membasahi jubahnya

Selesai mendengar cerita sedih wanita tersebuat, beliau terus bingkas bangun keluar daripada rumah wanita miskin tersebut dan berlari ke Baitul Mal dan memasukkan tepung, daging dan gula ke dalam sebuah karung.

Sebaik sahaja beliau hendak membawanya balik kepada wanita itu, salah seorang suruhannya menawarkan diri untuk membawakan karung itu.

"Biar aku sendiri yang membawa karung ini." kata Saidina Umar r.a.

"Adakah engkau sanggup memikul dosa2 ku di akhirat kelak?"

"Di hari pengadilan nanti engkau tidak akan dapat memikul bebanan-bebanan aku, jadi tidak ada sebab kenapa engkau mesti membawanya hari ini."sambungnya lagi.

Khalifah memikul karung yang sarat berisi makanan itu ke rumah wanita tersebut. Bila beliau sampai, beliau sendiri yang memasakkan makanan untuk anak-anak itu dan malah beliaulah yang memberi mereka makan. Ibu tua tersebut menyatakan ucapan terima kasih yang tidak terhingga kepada Saidina Umar r.a.

Sebaik sahaja beliau hendak meninggalkan rumah itu, wanita itu berkata kepadanya,

"Engkaulah yang sepatutnya menjadi khalifah, bukannya Umar r.a.. Engkau baik, murah hati dan faham perasaan orang. Itulah sepatutnya yang ada pada seorang khalifah (pemimpin negara)."

Dia tidak tahu bahawa yang menolongnya itu adalah Khalifah Umar.

Keesokannya Saidina Umar telah memanggil Ibu tua itu untuk datang menghadapnya... Alangkah terkejutnya Ibu tua itu apabila melihat Khalifah zalim yang disangkakan-nya itu adalah sebenarnya Lelaki yang datang membantunya pada malam tadi.....

"Puan", kata khalifah, "Akulah Umar .

Adalah kesalahan aku kerana tidak mengetahui kesusahan engkau. Tetapi sekarang anak-anakmu telahpun makan dan dapat tidur dengan sukacita. Aku juga telah mengatur mulai hari ini, Baitul Mal akan memberi sumbangan kepada engkau supaya engkau dapat menyara mereka secara sempurna sehinggalah mereka dewasa."

Khalifah Umar telah menghadiahkannya wang serta segala keperluan hidup, dan merayu kepadanya supaya berjanji untuk tidak MENDAKWANYA di hadapan Allah Azza wa Jalla di akhirat kelak

Masya Allah...!!

Sampai macam itu sekali tawadhu' dan takutnya Umar pada kemurkaan Allah S.w.t. Ini lah sebenarnya yang dikatakan Amirul mukminin, iaitu "pemimpin kepada orang-orang mukmin".

Ini lah contoh tauladan yang sebaiknya dicontohi.

Sedangkan Umar r.a telah dijanjikan syurga oleh Nabi Muhammad S.a.w, tetapi beliau masih lagi takut akan disoal di akhirat kelak mengenai kepimpinannya, apatah lagi kita yang langsung tidak dijanjikan syurga lagi ini.

Bayangkan kita sekarang jika menjadi pemimpin negara, adakah kita masih boleh hidup mewah dan bersuka-ria sedangkan ada rakyat yang hidup miskin dan dalam kesusahan?

Disebabkan kos sara hidup yang semakin tinggi ramai lagi yang hidup kais pagi makan pagi kais petang makan petang

Sahabat yang dikasihi...........

Begitulah ciri-ciri pemimpin yang adil dan bertanggungjawab yang sentiasa prihatin di atas kesusahan rakyat jelata yang memerlukan bantuan daripada Baitul Mal.

Adakah pemimpin kita pada masa ini memiliki sifat amanah dan prihatian seperti yang ditunjukkan oleh Khalifah Umar al-Khattab r.a?

Adakah pemimpin yang telah terpilih dan berkuasa dalam masyarakat sentiasa istiqamah dengan ajaran Islam atau bersikap pecah amanah dan menyalahgunakan kuasa yang ada?

Sama-samalah kita fikirkan dan buatlah pilihan yang betul apabila kalian berpeluang untuk memilih mereka..... 


PERHATIAN:- Jika anda rasa kandungan ini patut disebarkan ke laman facebook dan twitter anda,sila klik butang kongsi di bawah ini.

 
 Share

 


TERIMA KASIH KERANA KONGSI KANDUNGAN INI DENGAN RAKAN ANDA..
Read More →

28 April 2013

Antara Contoh-Contoh Dialog Menjadi Kafir Dalam Tak Sedar

Antara contoh-contoh dialog menjadi Kafir dalam tak sedar:
  1. Nabi Yusof smart, aku smart lebih sket dari nabi. (jatuh kafir)
  2. Tak payah la simpan2 janggut, tak payah nak bersunnah-sunnah, beselerak je muke aku tgk. (jatuh kafir)
  3. Zaman nabi mane ade Gillette, sebab tu la ade jambang. (jatuh kafir)
  4. Hudud dah tak sesuai zaman ni bro.. (jatuh kafir)
  5. Senyum la sket, muke masam je dah macam malaikat mungka nakir dah aku tgk. (jatuh kafir)
  6. Sedarlah sikit yang selama ni kerajaan bagi rezeki kat kamu. (jatuh kafir)
  7. Aku dah isi borang murtad, tapi tak diluluskan mahkamah la pulak. (jatuh kafir)
  8. Erm.. kalo murtad mesti boleh buat maksiat kan? Macam best je.. (jatuh kafir)
  9. Aku murtad dah, eh gurau je gurau je… (jatuh kafir)
  10. Jika ikut kaedah Islam, maka mundur lah negara kita ni.. (jatuh kafir)

“Barangsiapa MEMPERSENDA, MEMPERMAIN, MENAFIKAN sunnah Rasulullah dan ayat Kitabullah maka dia kafir serta-merta” -Kitab Fiqhul Akbar: Karangan Imam Syafie.



PERHATIAN:- Jika anda rasa kandungan ini patut disebarkan ke laman facebook dan twitter anda,sila klik butang kongsi di bawah ini.

 
 Share

 

TERIMA KASIH KERANA KONGSI KANDUNGAN INI DENGAN RAKAN ANDA..


Read More →

27 April 2013

Azab Berzina: Mati Berpelukkan

Selama dua hari terakhir, masyarakat diheboh dengan beredarnya gambar dua orang yang meninggal dunia ketika melakukan hubungan intim.

Berdasarkan khabar yang heboh di dalam masyarakat, dua insan itu disebut-sebut bukan pasangan suami isteri yang sah,melainkan dua orang yang curang.

Keduanya, dikhabarkan sama-sama sudah berkeluarga. Dari gambar yang beredar dari telefon ke telefon, tampak dua jasad tengah berpelukan.

Di foto itu terlihat, badan orang yang berada di atasnya bertiarap dan bahagian bokongnya ditutupi kain sarung. Sementara tangan wanita yang berada di bawahnya dalam posisi memeluk bahu lelaki itu.

Kedua jasad tersebut berada dalam beg jenazah berwarna kuning. Tampak juga dua orang berseragam mirip polis,tengah menunjukkan mayat dua orang yang disebut-sebut sedang berzina ini.

Sepertinya, kedua jasad itu berada di sebuah bilik mayat. Kerana jika dilihat dari lantainya, biasanya digunakan di ruangan mayat.

Salah seorang warga, Wahyudi mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya, dua pasangan berbeza jenis itu berzina di sekitar makam keramat yang berada di belakang Cengsin, Klari. Namun saat bercinta, badan keduanya tak boleh di lepas.

"Katanya yang lelaki sempat menelepon kawannya yang satpam, kerana badannya tidak boleh lepas. Sampai akhirnya dibawa ke tiga buah klinik, tapi tak ada yang
boleh melepaskan keduanya" ujarnya.

Berdasarkan informasi yang diterimanya pula, kedua pasangan yang curang itu meninggal di rumah sakit. "Awalnya saya tidak percaya khabar ada orang mati melekat,tapi setelah melihat gambar ini saya baru percaya,"katanya.

Dikatakannya juga, meski gambarnya beredar luas, namun berita yang diterimanya berasal dari mulut ke mulut. Ia sendiri belum tahu kebenarannya.

Kasi Trantib Kecamatan Klari Daud Haryanto mengatakan, ia hanya mendengar informasi
yang dihebohkan, namun tidak tahu kepastiannya. "berita yang dihebohkan memang seperti itu, tapi saya tidak tahu kerana kurang jelas informasinya," ujarnya.

Sementara itu, Kapolsek Klari Kompol Wahidin menganggapnya hanya isu yang beredar dari mulut ke mulut, kerana pihaknya tidak pernah menangani kes tersebut.

Menurutnya, jika kejadian itu benar, pihaknya pasti akan mendapatkan laporan dari
babinkamtibmas yang ditugaskan di desa.

Semoga menjadi Renungan & diambil hikmahnya..



PERHATIAN:- Jika anda rasa kandungan ini patut disebarkan ke laman facebook dan twitter anda,sila klik butang kongsi di bawah ini.

 
 Share

 

TERIMA KASIH KERANA KONGSI KANDUNGAN INI DENGAN RAKAN ANDA..
Read More →

24 April 2013

Arwah Ibu Melawat Jenazah Anak

Kisah ini diceritakan oleh seorang ustaz yang bertugas memandikan mayat orang Islam di hospital.

Lebih kurang jam 3.30 pagi, saya menerima panggilan dari Hospital Tengku Ampuan Rahimah,Klang, Selangor untuk menguruskan jenazah lelaki yang sudah seminggu tidak dituntut.

Di luar bilik mayat itu cukup dingin dan gelap serta sunyi dan hening.Hanya saya dan seorang penjaga bilik tersebut yang berada dalam bilik berkenaan.Saya membuka dengan hati-hati penutup muka jenazah. Kulitnya putih,badannya kecil dan berusia awal 20-an.

Allah Maha Berkuasa.

Tiba-tiba saya lihat muka jenazah itu sedikit demi sedikit bertukar menjadi hitam. Mulanya saya tidak menganggap ia sebagai aneh, namun apabila semakin lama semakin hitam, hati saya mula bertanya-tanya. Saya terus menatap perubahan itu dengan teliti, sambil di hati tidak berhenti-henti membaca ayat-ayat suci Al-Quran.

Detik demi detik berlalu,wajah jenazah semakin hitam. Selepas lima minit berlalu,barulah ia berhenti bertukar warna. Ketika itu wajah mayat berkenaan tidak lagi putih seperti warna asalnya, tetapi hitam seperti terbakar. Saya keluar dari bilik berkenaan dan duduk termenung memikirkan kejadian aneh yang berlaku itu. Pelbagai pertanyaan timbul di kepala saya; apakah yang sebenarnya telah terjadi?

Siapakah pemuda itu? Mengapa wajahnya bertukar hitam?

Persoalan demi persoalan muncul di fikiran saya. Sedang saya termenung tiba-tiba saya dapati ada seorang wanita berjalan menuju ke arah saya.

Satu lagi pertanyaan timbul, siapa pula wanita ini yang berjalan seorang diri di bilik mayat pada pukul 4.00 Semakin lama dia semakin hampir, dan tidak lama kemudian berdiri di hadapan saya. Dia berusia 60-an dan memakai baju kurung.

Ustaz," kata wanita itu.

"Saya dengar anak saya meninggal dunia dan sudah seminggu mayatnya tidak dituntut.

Jadi saya nak tengok jenazahnya." kata wanita berkenaan dengan lembut.

Walaupun hati saya ada sedikit tanda tanya, namun saya membawa juga wanita itu ke tempat jenazah tersebut. Saya tarik laci 313 dan buka kain penutup wajahnya.

"Betulkah ini mayat anak mak cik?"tanya saya.

"Mak cik rasa betul... tapi kulitnya putih."

"Makcik lihatlah betul-betul." kata saya.

Selepas ditelitinya jenazah berkenaan, wanita itu begitu yakin yang mayat itu adalah anaknya. Saya tutup kembali kain penutup mayat dan menolak kembali lacinya ke dalam dan membawa wanita itu keluar dari bilik mayat. Tiba di luar saya bertanya kepadanya.

"Mak cik, ceritakanlah kepada saya apa sebenarnya yang berlaku sampai wajah anak mak cik bertukar jadi hitam?" tanya saya.

Wanita itu tidak mahu menjawab sebaliknya menangis teresak-esak. Saya ulangi pertanyaan tetapi ia masih enggan menjawab. Dia seperti menyembunyikan sesuatu.

"Baiklah, kalau mak cik tidak mahu beritahu, saya tak mahu uruskan jenazah anak mak cik ini" kata saya untuk menggertaknya.

Bila saya berkata demikian, barulah wanita itu membuka mulutnya. Sambil mengesat airmata, dia berkata, "Ustaz, anak saya ni memang baik,patuh dan taat kepada saya. Jika dikejutkan di waktu malam atau pagi supaya buat sesuatu kerja, dia akan bangun dan buat kerja itu tanpa membantah sepatahpun. Dia memang anak yang baik. Tapi..." tambah wanita itu lagi "apabila makcik kejutkan dia untuk bangun sembahyang, Subuh misalnya, dia mengamuk marahkan mak cik. Kejutlah dia, suruhlah dia pergi ke kedai, dalam hujan lebat pun dia akan pergi, tapi kalau dikejutkan supaya bangun sembahyang, anak makcik ini akan terus naik angin. Itulah yang mak cik kesalkan." kata wanita tersebut.

Jawapannya itu memeranjatkan saya. Teringat saya kepada hadis nabi bahawa barang siapa yang tidak sembahyang, maka akan ditarik cahaya iman dari wajahnya. Mungkin itulah yang berlaku.Wajah pemuda itu bukan sahaja ditarik cahaya keimanannya, malah diaibkan dengan warna yang hitam.

Selepas menceritakan perangai anaknya, wanita tersebut meminta diri untuk pulang. Dia berjalan dengan pantas dan hilang dalam persekitaran yang gelap. Kemudian saya pun memandikan, mengapankan dan menyembahyangkannya. Selesai urusan itu, saya kembali ke rumah semula. Saya perlu balik secepat mungkin kerana perlu bertugas keesokan harinya sebagai imam di Masjid Sultan Sallehuddin Abdul Aziz Shah, Shah Alam.

Selang dua tiga hari kemudian, entah kenapa hati saya begitu tergerak untuk menghubungi waris mayat pemuda tersebut. Melalui nombor telefon yang diberikan oleh Hospital Tengku Ampuan Rahimah, saya hubungi saudara Allahyarham yang agak jauh pertalian persaudaraannya.

Selepas memperkenalkan diri, saya berkata, "Encik, kenapa encik biarkan orang tua itu datang ke hospital seorang diri di pagi-pagi hari. Rasanya lebih elok kalau encik dan keluarga encik yang datang sebab encik tinggal di Kuala Lumpur lebih dekat dengan Klang."

Pertanyaan saya itu menyebabkan dia terkejut, "Orang tua mana pula?" katanya.

Saya ceritakan tentang wanita berkenaan, tentang bentuk badannya,wajahnya,tuturannya serta pakaiannya.

"Kalau wanita itu yang ustaz katakan, perempuan itu adalah emaknya, tapi.... emaknya dah meninggal lima tahun lalu!"

Saya terpaku, tidak tahu apa yang hendak dikatakan lagi. Jadi 'apakah' yang datang menemui saya pagi itu? Walau siapa pun wanita itu dalam erti kata sebenarnya, saya yakin ia adalah 'sesuatu' yang Allah turunkan untuk memberitahu kita apa yang sebenarnya telah berlaku hingga menyebabkan wajah pemuda berkenaan bertukar hitam.

Peristiwa tersebut telah terjadi lebih setahun lalu, tapi masih segar dalam ingatan saya. Ia mengingatkan saya kepada sebuah hadis nabi, yang bermaksud bahawa jika seseorang itu meninggalkan sembahyang satu waktu dengan sengaja, dia akan ditempatkan di neraka selama 80,000 tahun.

Bayangkanlah seksaan yang akan dilalui kerana satu hari di akhirat bersamaan dengan seribu tahun di dunia.

Kalau 80,000 tahun?

* Kalau rajin..Tolong sebarkan perkara ini kepada saudara Muslim yang lain. Sabda Rasulullah SAW siapa yang menyampaikan satu ilmu dan orang membaca mengamalkannya maka dia akan beroleh pahala walaupun sudah tiada....^_~

PERHATIAN:- Jika anda rasa kandungan ini patut disebarkan ke laman facebook dan twitter anda,sila klik butang kongsi di bawah ini.

 
 Share

 

TERIMA KASIH KERANA KONGSI KANDUNGAN INI DENGAN RAKAN ANDA..
Read More →

12 April 2013

Kemusnahan Harta Qarun Kerana Enggan Berzakat

Qarun adalah nama seorang drp kaum Nabi Musa dan keluarganya yang dekat. Ia dikurniai Allah kelapangan rezeki dan kekayaan harta benda yang besar yang tidak ternilai bilangannya. IA hidup mewah, selalu mujur dalam usahanya mengumpulkan kekayaan, sehingga menjadi padatlah khazanahnya dengan harta benda dan benda-2 yang sgt berharga. Sampai-2 para juru kuncinya tidak berdaya membawa atau memikul kunci-2 peti khazanahnya karena sgt byk dan beratnya. Ia hidup secara mewah dan menonjol di antara kaum dan penduduk kotanya. Segala-galanya adlah luar biasa dan lain drp yang lain. Gedung-2 tempat tinggalnya ,pakaiannya sehari-hari ,pelayan-2nya dan hamba-2 sahayanya yang bilangannya melebihi keperluan. Dan walaupun ia tenggelam dalam lautan kenikmatan duniawi yang tiada taranya pada masa itu, ia merasa masih belum puas dengan tingkat kekayaan yang ia miliki dan terus berusaha mengisi khazanahnya yang sudah padat itu, sifat mausia yang serakah yang tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah dicapai. Jika ia sudah memiliki segantang emas ia ingin memperolhi segantang yang kedua dan demikian seterusnya.

Sebagaimana halnya dengan kebykan orang-orang kaya yang telah dimabukkan oleh harta bendanya maka Qarun tidak merasa sedikit pun bahwa dia mempunyai kewajiban sosial dengan harta kekayaannya itu. Ia dalam hidupnya hanya memikirkan kesenangan dan kesejahteraan peribadinya, memikirkan bagaimana ia dapat menambahkan kekayaannya yang sudah melimpah-limpah itu. Ia telah dinasihati oleh pemuka-2 kaumnya agar ia menyediakan sebahagian daripada kekayaannya bagi menolong para fakir miskin, menolong orang-orang yang telanjang yang tidak berpakaian dan lapar tidak dapat makanan. Ia diperingatkan bahwa kekayaan yang ia perolehi itu adalah kurniaan dari Tuhan yang harus disyukuri dengan beramal kebajikan terhadap sesama manusia dan melakukan perbuatan-2 yang dapat meringankan penderitaan orang-orang yang ditimpa musibah atau menderita cacat. Diperingatkan bahwa Allah yang telah memberinya rezeki yang luas itu dapat sewaktu-waktu mencabutnya bila ia melalaikan kewajiban sosialnya.

Nasihat yang baik dan peringatan yang jujur yang dikemukakan oleh pemuka-pemuka kaumnya itu tidak diendahkan oleh Qarun dan tidak mendapat tempat didalam hatinya.Ia bahkan merasa bahwa karena kekayaannya ialah yang harus memberi nasihat dan bukan menerima nasihat. Orang harus tunduk kepadanya, mematuhi perintahnya, mengiakan kata-katanya dan membenarkan segala tindak tanduknya. IA menyombongkan diri dengan mengatakan kepada orang-orang yang memberikan nasihat itu bahwa kekayaan yang ia miliki adalah semata-mata hasil jerih payahnya dan hasil kecekapan dan kepandaiannya berusaha dan bukan merupakan kurnia atau pemberian dari sesiapa pun. Karenanya ia bebas menggunakan harta kekayaannya menurut kehendak hatinya sendiri dan tidak merasa terikat oleh kewajipan sosial berupa pertolongan dan bantuan kepada para fakir miskin dan para penderita yang memerlukan bantuan dan pertolongan.

Sebagai tentangan bagi para orang yang menasihatinya, Qarun makin meningkatkan cara hidup mewahnya dan secara menyolok mempamerkan kekayaannya dengan berlebih-lebihan. Bila ia keluar, Ia mengenakan pakaian dan perhiasan yang bergemerlapan, membawa pengantar dan pembantu lebih banyak daripada biasanya dan mengenderai kuda-kuda yang dihiasi dengan indah dan cantik. Kemewahan yang ditonjolkan secara menyolok itu ,merasakan iri-hati dikalangan penduduk terutama mereka yang masih lemah imannya. Mereka berbisik-bisik diantara sesama mereka mengeluh dengan berkata: "Mengapa kami tidak diberi rezeki dan kenikmatan seperti yang telah diberikan kepada Qarun? Alangkah mujurnya nasib Qarun dan alangkah bahagianya dia dalam hidupnya di dunia ini! Dan mengapa Tuhan melimpahkan kekayaan yang besar itu kepada Qarun yang tidak mempunyai rasa belas kasihan terhadap orang-orang yang melarat dan sengsara, orang-orang yang fakir dan miskin yang memerlukan pertolongan berupa pakaian mahupun makanan.Dimanakah letak keadilan Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih itu?"

Qarun yang tidak mengabaikan anjuran orang, agar ia secara sukarela menyediakan sebahagiaan harta kekayaannya untuk disedekahkan kepada orang-orang yang memerlukannya, melarat dan miskin akhirinya didatangi oleh Nabi Musa menyampaikan kepadanya bahwa Allah telah mewahyukan perinyah berzakat bagi tiap-tiap orang yang kaya dan berada. Diterangkan oleh Musa kepadanya bahwa dalam harta kekayaan tiap ada bahagian yang telah ditentukan oleh Tuahn sebagai hak orang-orang yang melarat dan fakir miskin yang wajib diserahkan kepada mereka.

Qarun merasa jengkel memerima perintah wajib berzakat itu dan menyatakan keraguan dan kesangsian kepada Musa. Ia berkata: "Hai MUsa kami telah membantumu dan menyokongmu dalam dakwahmu kepada agama barumu. Kami telah menuruti segala perintahmu dan mendengarkan segala kata-katamu. Sikap kami yang lunak itu terhadap dirimu telah memberanikan engkau bertindak lebih jauh dari apa yang sepatutnya dan mulailah engkau ingin meraih harta benda kami. Engkau rupanya ingin juga menguasai harta kekayaan kami setelah kami serahkan kepadamu hati dan fikiran kami sebulat-bulatnya. Dengan perintah wajib zakatmu ini engkau telah membuka topengmu dan menunjukkan dustamu dan bahwa engkau hanya seorang pendusta dan ahli sihir belaka."

Tuduhan Qarun yang ingin melepaskan dirinya dari wajib berzakat itu ditolak oleh Nabi Musa yang menegaskan kembali bahwa kewajiban berzakat iut tidak dapat ditawar-tawar dan harus dilaksanakan karena ia adalah perintah Allah yang harus ditaati dan dilaksanakan dengan semestinya.

Quran tidak dapat jalan untuk mengelakkan diri dan kewajiban zakat itu setelah berbantah dan berdebat dengan Musa maka ia menyerah dan ditentukan berapa besar yang harus ia keluarkan zakat harta kekayaannya.

Setelah tiba di rumah dan menghitung-hitung bahagian yang harus dizakatkan dari harta miliknya Qarun merasa terlampau besar yang harus dizakatkan dan merasa sayang bahwa ia harus mengeluarkan dari khazanahnya sejumlah wang tanpa meperolehi imbalan sesuatu keuntungan dan laba. Fikir punya fikir dan timbang punya timbang akhirnya Qarun mengambil keputusan untuk tidak akan mengeluarkan zakat walau apapun yang akan terjadi akibat tindakannya itu.

Utk menguatkan aksi pemboikotannya terhadap kewajiban mengeluarkan zakat, Qarun menyebarkan fitnah kepada Nabi Musa dengan maksud menarik orang agar menjadikan penunjang aksinya dan mengikutinya menolak menolak kewajiban mengeluarkan zakat sebagaimana diperintahkan oleh Nabi Musa. Ia menyebarkan fitnah seolah-olah Nabi Musa dengan dakwahnya dan penyiaran agama barunya bertujuan ingin memperkayakan diri dan bahwa perintah zakatnya itu adalah merupakan cara perampasan yang halus terhadap milik-milik para pengikutnya.

Lebih jahat lagi untuk menjatuhkan Nabi Musa dan kewibawaannya, Qaru bersekongkol dengan seorang wanita yang diajarinya agar mengaku didepan umum bahwa ia telah melakukan perbuatan zina dengan Musa. Akan tetapi Allah tidak rela nama Rasul-Nya tercemar oleh tuduhan palsu yang diaturkan oleh Qarun itu. Maka digerakkanlah hati wanita sewaannya itu untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya dan bahwa apa yang ia tuduhkan kepada Nabi Musa adalah fitnahan dan ajaran Qarun semata-mata dan bahawasannya Musa adalah bersih dari perbuatan yang dituduh itu.

Setelah ternyata bagi Nabi Musa bahwa Qarun tidak beriktikad baik dan bahwa ia tidak dapat diharap menjadi pengikut yang soleh yang mematuhi perintah-2 Allah terutama perintah wajib zakat bahkan ia dapat merusakkan akhlak dan iman para pengikut Musa dengan sikap dan cara hidupnya yang berlebih-lebihan mewahnya, ditambahkan pula usahanya yang tidak henti-2 merusakkan kewibawaan Nabi Musa dengan melontarkan fitnahan dan berbagai hasutan maka habislah kesabaran Nabi Musa ,lalu berdoa ia kepada Allah agar menurunkan azab-Nya atas diri Qarun yang sombong dan congkak itu, agar menjadi pengajaran dan ibrah bagi kaumnya yang sudah mulai goyah imannya melihat kenikmatan yang berlimpah-limpah yang telah Allah kurniakan kepada Qarun yang membangkang itu.

Maka dengan izin Allah yang telah memperkenankan doa Nabi Musa terjadilah tanah runtuh yang dahsyat di atas mana terletak bangunan gedung-gedung yang mewah tempat tinggal Qarun dan tempat penimbunan kekayaannya. Terbenamlah seketika itu Qarun hidup-hidup berserta semua milik kekayaan yang menjadi kebaggaannya.

Peristiwa yang menimpa Qarun dan harta kekayaannya itu menjadi ibrah bagi pengikut-2 Nabi Musa serta ubat rohani bagi mereka yang beriri hati dan mendambakan kenikmatan dan kemewahan hidup sebagaimana yang telah dialami oleh Qarun. Mereka berkata seraya bersyukur kepada Allah: "Sekiranya Allah telah melimpahkan rahmat dan kurnia-Nya, nescaya kami dibenamkan pula seperti Qarun yang selalu kami inginkan kedudukan duniawinya. Sesungguhnya kami telah tersesat ketika kami beriri hati dan mendambakan kekayaannya yang membawa binasa baginya. Aduhai benar-2 tidaklah beruntung orang-orang yang mengingkari nikmat Allah."

Isi cerita tersebut di atas dapat dibaca dalam surah "Qashash" ayat 76 sehingga 82 dan surah "Al-Ahzaab" ayat 69 sebagaimana berikut :~

"76~Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa maka ia berlaku aniaya terhadap mereka dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-nya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-2. {Ingatlah{ ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." 

77~ Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan kepada mu {kebahagiaan} negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari {kenikmatan} duniawi dan berbuat baiklah {kepada orang lain} sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakkan di {muka} bumi ini. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakkan. 

78~ Qarun berkata: "Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku." Dan apakah ia tidak mengetahui bahwasannya Allah sungguh telah membinasakan umat-2 sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka. 

79~ Mak keluarlah Qarun kepada kaumnya dengan kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: " Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun , sesungguhnya ia benar-benar mempunyai peruntungan yang besar." 

80~ Berkatalah orang-orang yang telah dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebihbaik bagi orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar." 

81~ Mak Kami benamkan Qarun berserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang {yang dapat} membela {dirinya}. 

82~ Dan jadilah orang-orang yang kelmarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu berkata: "aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya. Kalau Allah tidak melimpahkan kurnia-Nya atas kita benar-benar Dia {Allah} telah membenamkan kita {pula}. Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari {nikmat} Allah." { Al-Qashash : 76 ~ 82 }

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah." { Al-Ahzaab : 69 }


PERHATIAN:- Jika anda rasa kandungan ini patut disebarkan ke laman facebook dan twitter anda,sila klik butang kongsi di bawah ini.

 
 Share

 


TERIMA KASIH KERANA KONGSI KANDUNGAN INI DENGAN RAKAN ANDA..
Read More →

31 March 2013

Kisah Pengantin Perempuan Menemui Allah Ketika Sujud




“Adakah ibu bimbang kerana saya tidak cantik di mata mereka? Bagaimana pula dengan Maha Pencipta saya? Saya bimbang kerana, jika saya terlepas solat saya, saya tidak lagi cantik di mata-Nya 


Ini merupakan sebuah kisah bagaimana seorang mujahadah yang meninggal dunia pada hari perkahwinannya dalam keadaan sujud dalam solat! Subhanallah! Sesungguhnya mendahulukan Allah dalam apa kerja lain yang sedang dilakukan adalah lebih afdhal. Semoga kita sentiasa berada dalam limpah rahmat Allah SWT. InsyaAllah. Mari kita susuri kisah yang hebat ini.

Selepas melaksanakan Solat Maghrib, dia mulakan make-up pada wajahnya, memakai pakaian pengantin putih yang cantik, mempersiapkan dirinya untuk majlis perkahwinannya sendiri, kemudian dia terdengar azan ‘Isyak dan menyedari bahawa wuduknya telah terbatal. Lalu dia berkata kepada ibunya: “Mak, saya perlu ambil wuduk dulu dan solat ‘Isyak “

Ibunya terkejut: “Apa kamu gila?!! Tetamu sedang menunggu, untuk melihat kamu! Bagaimana dengan make-up? ! Nanti habis dirosakkan oleh air.”

Tambah ibunya lagi: “Sebagai ibu, mak tak izinkan kamu solat sekarang! Wallahi… jika kamu ambil wuduk sekarang, mak akan tetap memarahi kamu.”

Anak perempuannya menjawab: “Wallahi… saya tidak akan pergi dari sini sehingga saya melakukan solat! Ibu sepatutnya tahu bahawa tidak ada ketaatan kepada mana-mana makhluk agar menderhaka kepada Maha Pencipta.!!”

Ibunya berkata: “Apa kata tetamu nanti jika kamu muncul dalam majlis perkahwinan sendiri tanpa make-up?! Tentu nampak hodoh atau tidak cantik di mata mereka! Mereka pasti akan mentertawakan kamu! “

Sambil tersenyum, anak perempuan itu bertanya: “Adakah ibu bimbang kerana saya tidak cantik di mata mereka? Bagaimana pula dengan Maha Pencipta saya? Saya bimbang kerana, jika saya terlepas solat saya, saya tidak lagi cantik di mata-Nya “

Dia mula berwuduk, dan semua make-up pada wajah telah hilang, tetapi dia tidak peduli.

Kemudian dia, di waktu sedang dalam keadaan pengantin, memulakan solat itu dan pada masa dia turun untuk sujud, dia tidak sedar bahawa ia akan menjadi satu sujud yang terakhir!

Ya! Beliau meninggal dunia ketika dalam sujud! Pengakhiran yang besar bagi Muslimah yang berkeras untuk mentaati Tuhannya! Ramai antara mereka yang mendengar cerita ini begitu tersentuh!!

Beliau mengutamakan Allah dan ketaatan kepadaNya sebagai yang pertama dalam keutamaan hidup beliau, jadi pengakhiran terbaik yang dianugerahkan oleh Allah pada mana-mana umat Islam yang layak memilikinya!

Dia mahu menjadi lebih dekat kepada-Nya, maka Allah mengambil nyawanya pada saat di mana umat Islam berada paling dekat kepada-Nya! SubhanAllah!

Dia tidak peduli jika dia tidak indah di mata makhluk, asalkan dia cantik pada Maha Pencipta!

Wahai saudari Muslimah, bayangkan jika anda berada di tempat itu! Apa yang anda akan lakukan? Apa yang anda akan pilih: pujian manusia atau Maha Pencipta?

Wahai sekelian insan! Adakah kita ada jaminan bahawa kita akan hidup untuk minit seterusnya? Jam? Atau bulan?!! Tiada siapa tahu apabila saat mereka akan datang? Atau bila kita akan bertemu malaikat Maut? Jadi, adakah kita bersedia untuk saat itu?




sumber:
[http://khalifahalhidayah.blogspot.com/2013/03/kisah-pengantin-perempuan-menemui-allah.html]

Wahai muslimah! Apa yang anda pilih: bersantai tanpa hijab atau dirahmati Allah dengan memakai hijab?

Adakah kita bersedia untuk menemui Allah tanpa hijab?

[Diceritakan oleh Syeikh ‘Abdul Mohsen al Ahmad’, ia berlaku di Abha (Ibu Negeri Asir di Arab Saudi)]


PERHATIAN:- Jika anda rasa kandungan ini patut disebarkan ke laman facebook dan twitter anda,sila klik butang kongsi di bawah ini.

 
 Share

 

TERIMA KASIH KERANA KONGSI KANDUNGAN INI DENGAN RAKAN ANDA..
Read More →